Wednesday, December 27, 2017

Bermain Sebagai Metode Pembelajaran yang Efektif dan Menyenangkan pada Pendidikan Anak usia dini

Semua guru tentu bisa mengajar, namun tidak semua guru bisa dan mampu mengajar TK atau PAUD. Mengajar PAUD berarti mengajar anak yang sedang ada di masa usia keemasannya (golden age). Sebuah masa dimana potensi anak sedang berkembang dan saat yang tepat untuk membuatnya menjadi seorang pembelajar yang mandiri dan haus pengetahuan. Karenanya, butuh metode pembelajaran yang tepat dan efektif serta menyenangkan. Lantas, metode apa sih yang efektif dan menyenangkan?

Bermain

Bermain adalah pembelajaran yang efektif di paud. Bagi anak, bermain merupakan suatu kegiatan yang sifatnya melekat langsung pada kodrat dan kebutuhan perkembangan anak. Anak usia dini lebih banyak belajar dari pengalaman berinteraksi dengan obyek-obyek konkrit dan orang sekitarnya-teman, guru, orang tua, daripada melalui simbol-simbol tertulis (baca tulis hitung).

Bermain diartikan sebagai suatu kegiatan yang bersifat voluntir, spontan, terfokus pada proses, memberi ganjaran secara instrinsik, menyenangkan, aktif, dan fleksibel. Semakin suatu aktivitas memiliki ciri-ciri tersebut, berarti aktivitas itu semakin merupakan bermain (Solehudin, 1996).

Dalam bermain anak bisa melakukan aktivitas yang mempraktekkan kemampuan dan keterampilannya dalam kegiatan mencoba, meneliti dan menemukan hal-hal baru. Aktivitas-aktivitas yang dilakukan anak di saat bermain bisa membuat anak aktif dan interaktif, baik secara fisik maupun secara mental sehingga dapat mendukung pemberdayaan berbagai aspek perkembangan anak berdasarkan kenginan dan kemauannya sendiri.

Manfaat Bermain Bagi Anak usia dini
· Bermain dapat membantu anak dalam mengembangkan banyak aspek fundamental dari perkembangan anak, baik fisik, intelektual, sosial, dan emosional.
·   Bermain dapat mengembangkan otot-otot disaat anak melakukan kegiatan fisiknya.
·   Bermain dapat mengembangkan keterampilan intelektual di saat anak terlibat dalam aktivitas-aktivitas yang menuntut pikirannya.
· Bermain dapat mengembangkan keterampilan sosial di saat sejumlah anak terlibat aktif dalam suatu interaksi dengan orang lain.
·     Bermain dapat mengembangkan aspek emosi disaat anak belajar mengendalikan emosinya

Kompetensi yang dicapai melalui metode bermain 
Permainan yang diselenggarakan dalam pembelajaran dapat meningkatkan kompetensi khususnya kompetensi yang erat kaitannya dengan perkembangan anak. Ralibi dalam Fun Teaching (2008: 23) mengemukakan tentang kompetensi dari hasil permainan adalah sebagai berikut:
·  Self Awareness, yaitu kemampuan menyadari emosi dan pikiran di dalam diri sendiri serta menyadari tindakan apa yang harus dilakukan atas emosi yang sedang disadarinya.
·      Self Direction, yaitu kemampuan menggunakan pilihan-pilihan dalam menghadapi persoalan.
·      Self Management, yaitu keampuan mengelola atau mengorganisasi persoalan atau tugas secara mandiri.
·      Empathy, kemampuan menyadari emosi yang dirasakan oleh orang lain.
·      Assertive, yaitu kemampuan mengkondisikan  diri diantara perilaku submisif (cenderung mengikuti) dan agresif.
·      Followership, yaitu kemampuan memosisikan diri untuk dipimpin orang lain.
·  Craetive Thinking, yaitu kemampuan berpikir dengan cara memadukan pengalaman pikiran dan tindakannya dalam menghadapi persoalan.
·      Team Work, yaitu kemampuan bekerjasama dalam sebuah tim.
·      Problem Solving, yaitu kemampuan memecahkan persoalan.
·      Oppeness, yaitu kemampuan membuka diri terhadap orang lain.
·      Team Spirit, yaitu kemampuan menghidupkan semangat secara kolektif.
·      Effective Comunication, yaitu kemampuan berinteraksi satu sama lain secara verbal maupun non verbal.
·      Self Communication, yaitu kemampuan beinteraksi satu sama lain baik secara verbal maupun nonverbal.
·      Self Motivation, yaitu kemampuan memacu motivasi di dalam diri.


(Dari berbagai sumber)

No comments:

Post a Comment