Monday, November 21, 2016

TEKNIK PENYIMPULAN KUALITAS HADIS

Dipresentasikan dalam kuliah Naqd al-Hadis

I.       PENDAHULUAN
Hadits Nabi merupakan sumber ajaran Islam, di samping Al-Qur’an. Dilihat dari periwayatannya, hadits Nabi berbeda dengan Al-Qur’an. Al-Qur’an semua periwayatan ayat-ayatnya berlangsung secara mutawatir, sementara hadits sebagian periwayatannya berlangsung secara mutawatir dan sebagian lagi berlangsung secara ahad. Dengan demikian, dilihat dari segi periwayatan, seluruh ayat Al-Qur’an tidak perlu dilakukan penelitian tentang orisinalitasnya. Sedangkan hadits Nabi, dalam hal ini yang berkategori ahad, diperlukan penelitian. Dengan penelitian itu akan diketahui, apakah hadits yang bersangkutan dapat dipertanggungjawabkan periwayatannya berasal dari Nabi ataukah tidak.[1]
Dalam makalah ini akan membahas masalah yang berkaitan dengan teknik penyimpulan kualitas hadits, yang di dalamnya mengulas langkah-langkah dalam menyimpulkan kualitas hadits serta praktek menilai kualitas hadits.

II.    RUMUSAN MASALAH
            A.  Bagaimana langkah penyimpulan kualitas hadits?
             B.  Bagaimana praktek menilai kualitas hadits?

III.  PEMBAHASAN
           A.    Langkah Penyimpulan Kualitas Hadits
Penyimpulan kualitas hadits merupakan tujuan akhir dari segala langkah dalam penelitian hadits. Penelitian hadits yang terfokuskan pada penelitian sanad dan matan memberikan beberapa istilah yang mewakili dari kualitas hadits tersebut, yakni apakah termasuk hadits sahih, hadits hasan, atau hadits da’if. Hadits sahih merupakan hadits yang sanadnya bersambung dari awal sampai akhir, para periwayatnya bersifat adil dan dabit, serta terhindar dari syuzuz (jenggalan) dan illat (cacat). Sedangkan hadits hasan adalah hadits yang sanad-nya bersambung dari awal sampai akhir, para periwayat bersifat adil dan sedikit dabit, dan terhindar dari syuzuz (jenggalan) dan illat (cacat). Dan hadits da’if adalah hadits yang tidak memenuhi sebagian atau seluruh syarat hadits sahih dan hasan.[2]
Untuk dapat mencapai penyimpulan dari kualitas hadits, terdapat beberapa langkah yang harus dilaksanakan terlebih dahulu:
a.    Takhrij al-Hadits
Takhrij hadits merupakan kegiatan penelitian hadits dengan penelusuran atau pencarian hadits pada berbagai kitab sebagai sumber asli dari hadits yang bersangkutan, yang di dalam sumber itu dikemukakan secara lengkap matan dan sanad hadits yang bersangkutan.[3]
b.    I’tibar Sanad
Al-I’tibar adalah kegiatan yang menyertakan sanad-sanad yang lain dari suatu hadits, dimana hadits tersebut pada bagian sanadnya tampak hanya terdapat seorang periwayat saja dan dengan menyertakan sanad-sanad yang lain dapat diketahui apakah ada periwayat yang lain ataukah tidak ada untuk bagian sanad dari sanad hadits tersebut. Tujuan dari al-i’tibar adalah untuk mengetahui keadaan sanad hadits seluruhnya dilihat dari ada atau tidak adanya pendukung berupa periwayat yang berstatus mutabi’ (periwayat pendukung dari periwayat yang bukan sahabat Nabi) atau syahid (periwayat pendukung yang berkedudukan sebagai dan untuk sahabat Nabi).[4]
c.    Jam’ur Ruwah
Jam’ur Ruwah terdiri dari dua kata, yakni kata jam’un (جمع) yang berarti himpunan, kumpulan, dan ruwah ( رواة) yang merupakan jama’ taksir dari lafadz rowi yang berarti orang yang meriwayatkan atau orang yang menceritakan.[5] Jadi jam’ur ruwah (جمع الرواة) adalah himpunan atau kumpulan para perawi yang menceritakan atau meriwayatkan apa-apa yang pernah didengar dan diterimanya dari seorang (gurunya) mengenai hadits-hadits Nabi Muhammad SAW.[6]
d.   Ittishal Sanad
Ittishal sanad atau persambungan sanad adalah tiap-tiap periwayat dalam sanad hadits menerima riwayat hadits dari periwayat hadits terdekat sebelumnya, keadaan itu berlangsung sampai akhir sanad dari hadits itu. Jadi seluruh rangkaian periwayat dalam sanad mulai dari periwayat yang disandari oleh al-mukharrij sampai kepada periwayat tingkat sahabat yang menerima hadits yang bersangkutan dari Nabi bersambung dalam periwayatannya.[7]
Naqd sanad atau penelitian sanad berkisar tentang pembahasan kualitas dari para perawi hadits, apakah perawi-perawi dalam hadits tersebut sudah memenuhi kriteria-kriteria seorang periwayat yakni tentang keadilan dan kedabithannya, juga tentang persambungan sanadnya, apakah antar periwayat bersambung ataukah terputus yakni apabila tidak ada kejelasan antara periwayat satu dengan periwayat yang lain. Kemudian dalam penelitian sanad kita akan meneliti apakah ada syuzuz (kejanggalan) dan ‘illah (cacat) dalam sanad tersebut.[8]
e.    Natijah Sanad
Natijah sanad atau penyimpulan kualitas sanad merupakan kegiatan akhir penelitian sanad dalam proses penelitian hadits. Penyimpulan tersebut berisikan natijah (kongklusi) yang didukung dengan argumen-argumen yang menjelaskan keadaan sanad secara rinci. Isi natijah untuk hadits yang dilihat dari segi jumlah periwayatnya mungkin berupa pernyataan bahwa hadits yang bersangkutan berstatus mutawattir atau berstatus ahad. Untuk hasil penelitian hadits ahad, maka natijahnya berisi pernyataan bahwa sanad hadits yang bersangkutan berkualitas shahih, hasan, atau dhoif sesuai dengan apa yang telah diteliti.[9]
f.     Naqd Matan
Kritik matan lazim dikenal sebagai kritik internal, yakni difokuskan pada teks hadits yang merupakan inti sari dari apa yang pernah disabdakan oleh Rasulullah, yang ditransmisikan kepada generasi-generasi berikutnya hingga ke tangan Mukharrij al-hadits, baik secara lafdzi maupun maknawi.[10] Kesahihan matan dapat diukur ketika matan hadits tersebut terhindar dari syudzudz (kejanggalan) dan illah (catat).

            B.     Praktek Menilai Kualitas Hadits
1.    Naqd Sanad
Meneliti sanad hadits tentang mengatasi kemungkaran:
Langkah pertama: melakukan kegiatan takhrijul hadits
Hadits yang berbunyi  من رأى منكم منكرا  atau semakna dengannya, menurut hasil takhrij, hadits tersebut diriwayatkan oleh:
a.    Muslim dalam Shahih Muslim, Juz I, halaman 69;
b.    Abu Daud dalam Sunan Abi Daud, Juz I, halaman 297 dan Juz IV, halaman 123;
c.    At Turmudzi dalam Sunan at Turmudzi, Juz III, halaman 317 – 318;
d.   An Nasa’i dalam Sunan an Nasa’i, Juz VIII, halaman 111 – 112;
e.    Ibnu Majah dalam Sunan Ibnu Majah, Juz I, halaman 406 dan Juz II, halaman 1330;
f.     Ahmad bin Hambal dalam Musnad Ahmad ibn Hanbal, Juz III, halaman 10, 20, 49, 52 – 53, 92.
Keterangan dapat dilihat pada lampiran I
Langkah kedua: melakukan kegiatan al i’tibar
Hasilnya dapat dilihat pada lampiran II
Langkah ketiga: melakukan penelitian sanad
 Dalam hal ini, karena sanad hadits yang akan diteliti berjumlah banyak, maka salah satu sanad yang ada dapat dipilih untuk diteliti langsung secara cermat.
Sanad yang dipilih untuk diteliti langsung sebagai contoh dalam kegiatan ini adalah salah satu sanad Ahmad bin Hambal, yakni yang melalui Yazid. Bunyi riwayat hadits berdasarkan sanad Ahmad dari Yazid tersebut sebagai berikut:
حَدَثَنَا عَبْدُ اللهِ حَدَثَنِي أَبِي حَدَثَنَا يَزِيْدُ أَخْبَرَنيِ شُعْبَةُ عَنْ قَيْسِ بْنِ مُسْلِمٍ عَنْ طَارِقِ بْنِ شِهَابِ قَالَ: خَطَبَ مَرْوَانُ قَبْلَ الصَّلَاةِ فِي يَوْمِ الْعِيْدِ فَقَامَ رَجُلٌ فَقَالَ إِنَمَا كَانَتِ الصَّلَاةُ قَبْلَ الخُطْبَةِ فَقَالَ تَرَكَ ذَلِكَ يَا أَبَا فُلَانٍ فَقَامَ أَبُو سَعِيْدٍ الخُدْرِيِّ فَقَالَ: أَمَّا هَذَا فَقَدْ قَضَى مَا عَلَيْهِ سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَى الله عَلَيْهِ وَسَلَم يَقُوْلُ مَنْ رَأَى مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ وَذَلِكَ أَضْعَفُ الِإيْمَانِ. ( أخرجه أحمد )
Urutan nama periwayat hadits riwayat Ahmad di atas ialah:
No
Nama Periwayat
Urutan Periwayat
1.       
Abu Sa’id al Khudri
Periwayat I
2.       
Thariq bin Syihab
Periwayat II
3.       
Qais bin Muslim
Periwayat III
4.       
Syu’bah
Periwayat IV
5.       
Yazid
Periwayat V
6.       
Abi ( Ahmad bin Hambal )
Periwayat VI
7.       
Abdullah
Periwayat VII

Yang menyatakan kata haddasana pada permulaan riwayat di atas adalah murid Abdullah bin Ahmad bin Hambal, yakni Abu Bakr Ahmad bin Ja’far bin Hamdan bin Malik al Qati’i, salah seorang periwayat yang menyampaikan riwayat hadits-hadits yang terhimpun dalam Musnad Ahmad.
Naskah Musnad Ahmad yang riwayatnya dikutip di atas disandarkan kepada Abdullah bin Ahmad bin Hambal ( 213 – 290 H ) karena Imam Ahmad bin Hambal telah membacakan kitab musnadnya itu kepada putranya tersebut. Ahmad bin Hambal sendiri telah memuji akan kecerdasan dan keahlian Abdullah di bidang hadits.
Al Khatib al Bagdadi menyatakan bahwa Abdullah itu siqah sabt. Kata an Nasai dan ad Daraqutni, Abdullah itu siqah. Guru Abdullah di bidang periwayatan hadits di antaranya ayahnya sendiri, Ibrahim binHijaj as Sami, dan Yahya bin Ma’in. Murid-murid beliau juga cukup banyak, antara lain an Nasa’i, Abu Zur’ah al Asfara’ni, dan Abu Bakr al qati’i, yakni Abu Bakr Ahmad bin Ja’far bin Hamdan bin Malik al Qati’i yang telah menyampaikan riwayat hadits di atas.[11]
Keterangan tentang kualitas periwayat dan persambungan sanad dapat dilihat dalam tabel pada lampiran III.
Seluruh periwayat yang terdapat dalam sanad yang diteliti, masing-masing mereka bersifat siqah, bahkan sebagian dari para periwayat itu, ke siqahannya berperingkat tinggi, dan sanadnya dalam keadaan bersambung mulai dari mukharijjnya sampai kepada sumber utama berita, yakni Nabi Muhammad SAW. Kekuatan sanad Ahmad yang diteliti makin meningkat bila dikaitkan dengan pendukung (corroboration) berupa mutabi’. Sanad-sanad yang memiliki mutabi’ terletak pada sanad-sanad pertama, kedua, dan keempat. Secara keseluruhan, dukungan yang berasal dari sanad-sanad Muslim, at Turmudzi, an Nasai, Abu Daud, dan Ibnu Majah makin menambah kekuatan sanad Ahmad bila ternyata semua sanad menambah kekuatan sanad Ahmad bila ternyata semua sanad dari para mukharrij itu berkualitas sahih juga.
Dengan alasan-alasan tersebut, sangat kecil kemungkinannya bahwa sanad Ahmad yang diteliti itu mengandung syudzudz (kejanggalan) ataupun illat (cacat). Karenanya, telah memenuhi syarat apabila sanad Ahmad yang diteliti itu dinyatakan terhindar syudzudz dan illat.[12]
Langkah keempat: mengambil natijah
Hadits yang diteliti memiliki banyak sanad. Walaupun demikian, hadits tersebut bukanlah hadits mutawatir, melainkan hadits ahad. Melihat jumlah periwayat yang terdapat dalam seluruh sanad, hadits tersebut pada periwayat tingkat pertama berstatus garib dan mulai pada periwayat tingkat keempat dan seterusnya berstatus masyhur.
Hadits dapat dikatakan sahih bila memenuhi sepenuhnya lima syarat hadits shahih:
a.    Sanad hadits itu harus bersambung.
b.    Para perawi yang meriwayatkan hadits itu haruslah orang yang bersifat adil (kepercayaan).
c.    Para perawi yang meriwayatkan hadits itu haruslah bersifat dhabith.
d.   Apa yang berkenaan dengan  periwayatan hadits itu, tidak ada kejanggalan-kejanggalan (syudzudz).
e.    Apa yang berkenaan dengan periwayatan hadits itu, tidak ada sama sekali cacatnya.[13]
Hasil dari naqd sanad yang dipilih yaitu sanad Ahmad bin Hambal, yakni yang melalui Yazid ternyata seluruh periwayatnya bersifat siqah (adil dan dhabith), sanadnya bersambung (muttashil); terhindar dari syudzudz (kejanggalan) dan terhindar dari illat (cacat). Dengan demikian, sanad hadits tersebut berkualitas shahih li dzatih.

2.    Naqd Matan
a.       Susunan Lafal
Hadits yang berbunyi مَنْ رَأى مِنْكُمْ مُنْكَرًا diriwayatkan oleh enam mukharrij memiliki keragaman sehingga perlu dilakukan telaah terhadap berbagai lafal yang ada pada beberapa hadits. Matan hadits pada sanad Ahmad bin Hambal agak berbeda susunan lafalnya dengan matan riwayat Muslim. Pada riwayat Muslim awal matannya berbunyi:
مَنْ رَأى مِنْكُمْ مُنْكَرًا
  Sedang awal matan riwayat Ahmad tersebut berbunyi:
مَنْ رَأى مُنْكَرًا
Perbedaan semacam itu masih dapat di toleransi sebagai akibat adanya periwayatan hadits secara makna. Hal tersebut juga dipengaruhi oleh adanya hadits Nabi yang sampai kepada mukharrij lebih banyak bersifat riwayat bil al-ma’na daripada bil al-lafdh.
b.      Tidak Bertentangan dengan Al-Qur’an
Setelah susunan lafal diteliti, maka langkah berikutnya adalah meneliti kandungan matan, perlu diperhatikan matan-matan dan dalil-dalil lain yang mempunyai topik masalah yang sama. Tidak bertentangan dengan akal yang sehat, tidak bertentangan dengan hukum Al Qur’an yang telah muhkam (ketentuan hukum yang telah tetap), tidak bertentangan dengan hadits mutawatir, dan sebagainya sesuai dengan kriteria keshahihan matan.
Dalam hadits di atas dijelaskan perintah untuk mencegah kemungkaran, menurut akal hal tersebut sangatlah baik, Sehingga hal itu akan menjadikan pelaku kemungkaran  menerima nasihat yang diberikan baik secara langsung maupun tidak langsung, karena dengan mencegah kemungkaran kita akan terhindar dari hal-hal yang buruk. kesempatan berbuat baik kepada sesama makhluk terbuka luas, dan semua akan mendapat pahala jika diniatkan untuk mencari keridhaan dari-Nya.[14]
Di dalam Al-Qur’an juga menjelaskan tentang amar ma’ruf nahi mungkar. Seperti yang tercantum dalam Q.S. Ali Imran: 104.
Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung.
c.       Tidak Bertetangan dengan Akal Sehat
Bahwa perintah terhadap amar ma’ruf nahi munkar, tentunya tidak bertentangan dengan akal sehat. Sebab perintah untuk ber-amar ma’ruf nahi munkar merupakan keniscayaan di dalam ajaran agama Islam. Dan hal itu juga tidak bertentangan dengan fakta sejarah, karena ber-amar ma’ruf nahi munkar telah dilakukan pada masa Nabi Muhammad SAW dan masa-masa selanjutnya hingga saat ini.[15]
Kualitas matan hanya dikenal dua macam saja,  yakni sahih dan dha’if, maka pada matan hadits  مَنْ رَأى مِنْكُمْ مُنْكَرًا  ini, dinyatakan sebagai matan yang sahih. Karena selain sanad hadits tersebut berkualitas sahih li dzatihi, susunan lafal matan yang semakna juga tidak ada kejanggalan dan pertentangan serta kandungan matannya pun sesuai dan sejalan dengan akal yang sehat, hukum Al-Qur’an yang telah muhkam. Dengan demikian maka dapat dinyatakan bahwa hadits di atas telah memenuhi persyaratan matan hadits yang shahih. 
d.      Kandungan Matan
Dalam kitab Syarah al-Nawawi Ala Muslim, Imam al-Nawawi menjelaskan bahwa  dalam rangka amar ma’ruf nahi munkar tidak disyaratkan bagi orang yang melakukannya mempunyai pribadi yang sempurna, dalam arti bahwa orang tersebut terlebih dahulu harus melakukan apa yang diperintahkannya maupun meninggalkan apa yang ditinggalkannya. Kalau pribadi orang tersebut belum sempurna, maka kewajiban orang tersebut menjadi ganda, artinya dia wajib mengingatkan dirinya dan orang lain. Para ulama juga berpendapat bahwa amar ma’ruf nahi munkar tidak hanya dikhususkan hanya kepada orang-orang yang berkuasa saja, namun hal itu boleh dilakukan oleh setiap pribadi muslim.
Tindakan amar ma’ruf nahi munkar juga harus mempertimbangkan kemungkinan dari akibat yang ditimbulkan. Menurut para ulama, jika menurut prasangkaan yang kuat bahwa merubah sebuah kemungkaran dapat menyebabkan terjadinya kemungkaran yang lebih berat, seperti terbunuhnya orang yang melakukan atau orang lain, maka hal itu hendaknya dihindari dan mencukupkan diri dengan memberi peringatan atau nasehat untuk meninggalkan kemungkaran tersebut, bahkan jika itupun menyebabkan celaan dari orang yang berbuat kemungkaran, maka dicukupkan taghyir al-Munkar dengan hati.
Jika ditemukan orang lain yang mendukung terwujudnya amar ma’ruf nahi munkar, maka hal itu diperbolehkan dengan catatan tetap tidak menggunakan cara kekerasan dan jika dimungkinkan terjadinya hal tersebut, maka langkah selanjutnya jika memungkinkan adalah mengangkat masalah tersebut kepada pihak-pihak yang berwenang, hal ini sesuai dengan pendapat dari Imam al-Haramain, dan jika tidak memungkinkan maka mencukupkan diri dengan taghyir al-Munkar dengan hati (Abu Zakariyah bin Yahya al-Nawawi: II, 1392: 21-22).[16]

IV.  KESIMPULAN
Kegiatan akhir dari penelitian hadits yaitu penyimpulan hadits dalam memilih dan memilah apakah hadits tersebut shahih, hasan atau dhaif dilihat dari kualitasnya. Secara umum metode penelitian hadits terfokus dalam dua segi, yaitu sanad dan matan;
1.    Naqd Sanad
Langkah pertama, melakukan kegiatan takhrijul hadits
Langkah kedua, melakukan kegiatan al i’tibar
Langkah ketiga, melakukan penelitian sanad
Langkah keempat, mengambil natijah
2.    Naqd Matan
Menurut al-Khatib al-Baghdadi (w 463 H/1072 M), suatu matan hadits barulah dinyatakan sebagai  maqbul (yang diterima karena kualitas shahih) apabila:
             a.       Tidak bertentangan dengan akal sehat;
             b.      Tidak bertentangan dengan Al-Qur’an;
             c.       Tidak bertentangan dengan hadits yang mutawatir;
             d.      Tidak bertentangan dengan amalan yang telah menjadi kesepakatan ulama masa lalu (ulama salaf);
             e.       Tidak bertentangan dengan dalil yang pasti;
             f.       Tidak bertentangan dengan hadits ahad yang kualitas shahihnya lebih kuat.[17]

V.    PENUTUP
Demikianlah makalah yang pemakalah susun. Pemakalah berusaha membuat makalah ini dengan sebaik-baiknya, tetapi kami juga menyadari bahwa dalam penyusunan makalah ini masih banyak kekurangan. Oleh karena itu kritik dan saran yang konstruktif kami harapkan demi perbaikan makalah di kemudian hari. Semoga makalah ini bermanfaat bagi kita semua. Amin.





[1]M. Syuhudi Ismail, Metodologi Penelitian Hadis Nabi, (Jakarta: Bulan Bintang, 1992), hlm.  37-38
                [2]M. Syuhudi Ismail, Metodologi Penelitian Hadis Nabi , hlm.  3-4..
[3]M. Syuhudi Ismail, Metodologi Penelitian Hadis Nabi, hlm. 43.
                [4]M. Syuhudi Ismail, Metodologi Penelitian Hadis Nabi, hlm. 51-52.
                [5]Ahmad Warson Munawwir, Al-Munawwir Kamus Arab Indonesia, (Surabaya: Pustsaka Progresif, 1997), hlm 209 dan 551.
[6]Ahmad Husain, Kajian Hadits Metode Takhrij, (Jakarta: Pustaka Al-Kautsar, 1993), hlm. 90–91.
[7]M. Syuhudi Ismail, Kaedah Kesahihan Sanad Hadis Telaah Kritis dan Tinjauan dengan Pendekatan Ilmu Sejarah, (Jakarta: Bulan Bintang, 1998), hlm. 111.
[8]M. syuhudi Ismail, Metodologi Penelitian Hadis Nabi ,  hlm. 66.
[9]M. Syuhudi Ismail, Metodologi Penelitian Hadis Nabi, hlm.  98-99.
[10]Umi Sunbullah, Kritik Hadis: Pendekatan Historis Metodologis, (Malang: UIN-Malang Press, 2008), hlm. 93 – 94.
[11]M. Syuhudi Ismail, Metodologi Penelitian Hadis Nabi, hlm. 100 – 101.
[12]M. Syuhudi Ismail, Metodologi Penelitian Hadis Nabi, hlm 109.
[13]M. Syuhudi Ismail, Pengantar Ilmu Hadis, (Bandung: Angkasa, 1991), hlm. 179 – 180.
[14]Khalil Al Musawi, Terapi Akhlak, (Jakarta: Zaytuna, 2011), hlm. 50.
[15]Hasan Su’aidi (Dosen Tafsir Hadis Jurusan Ushuluddin Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri Pekalongan), dalam artikel Konsep Amar Ma’ruf Nahi Munkar Perspektif Hadits.
[16]Hasan Su’aidi (Dosen Tafsir Hadis Jurusan Ushuluddin Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri Pekalongan), dalam artikel Konsep Amar Ma’ruf Nahi Munkar Perspektif Hadits.
[17]M. Syuhudi Ismail, Metodologi Penelitian Hadis Nabi, hlm. 126.

Lampiran I

 No
 Periwayat
Hadis

1.       
Sahih Muslim
حدثنا أبو بكر بن أبي شيبة. حدثنا وكيع بن سفيان. ح وحدثنا محمد بن المثنى. حدثنا محمد بن جعفر. حدثنا شعبة كلاهما عن قيس بن مسلم، عن طارق بن شهاب. وهذا حديث أبي بكر. قال: أول من بدأ بالخطبة، يوم العيد قبل الصلاة، مروان. فقام إليه رجل. فقال: الصلاة قبل الخطبة. فقال: قد ترك ما هنالك. فقال أبو سعيد: أما هذا فقد قضى ما عليه. سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول "من رأى منكم منكرا فليغيره بيده. فإن لم يستطع فبلسانه. ومن لم يستطع فبقلبه. وذلك أضعف الإيمان".

Juz I, halaman 69

كتاب الإيمان

باب بيان كون النهي عن المنكر من الإيمان. وأن الإيمان يزيد وينقص. وأن الأمر بالمعروف، والنهي عن المنكر واجبان

2.       
Sunan Abi Daud
حدثنا محمد بن العلاء، ثنا أبو معاوية، ثنا الأعمش، عن إسماعيل بن رجاء، عن أبيه، عن أبي سعيد الخدري، ح وعن قيس بن مسلم، عن طارق بن شهاب، عن أبي سعيد الخدري قال :أخرج مروان المنبر في يوم عيد، فبدأ بالخطبة قبل الصلاة، فقام رجل فقال: يا مروان، خالفت السنة، أخرجت المنبر في يوم عيد ولم يكن يخرج فيه، وبدأت بالخطبة قبل الصلاة، فقال أبو سعيد الخدري: من هذا؟ قالوا: فلان ابن فلان، فقال: أما هذا فقد قضى ما عليه سمعت رسول اللّه صلى اللّه عليه وسلم يقول: "من رأى منكرا فاستطاع أن يغيره بيده فليغيره بيده، فإن لم يستطع فبلسانه، فإن لم يستطع فبقلبه، وذلك أضعف الإيمان".

Juz I, halaman 297

كتاب الصلاة

باب الخطبة يوم العيد

Juz IV, halaman 123
حدثنا محمد بن العلاء وهنّاد بن السري قالا: ثنا أبو معاوية، عن الأعمش، عن إسماعيل بن رجاء، عن أبيه، عن أبي سعيد، وعن قيس بن مسلم، عن طارق بن شهاب، عن أبي سعيد الخدري قال :سمعت رسول اللّه صلى اللّه عليه وسلم يقول: "من رأى منكرا فاستطاع أن يغيره بيده فليغيره بيده" وقطع هنّاد بقية الحديث وفاه ابن العلاء "فإن لم يستطع فبلسانه، فإن لم يستطع [بلسانه] فبقلبه، وذلك أضعف الإيمان".

كتاب الملاحم

باب الأمر والنهي

3.       
Sunan At Tirmidzi
حدثنا بندار أخبرنا عبد الرحمن بن مهدي أخبرنا سفيان عن قيس بن مسلم عن طارق بن شهاب قال أول من قدم الخطبة قبل الصلاة مروان فقام رجل فقال لمروان خالفت السنة فقال يا فلان ترك ما هناك. فقال أبو سعيد أما هذا فقد قضى ما عليه سمعت رسول اللَّهِ صلَّى اللَّهُ عليه وسلم يقول:  (من رأى منكرا فلينكره بيده ومن لم يستطع فبلسانه ومن لم يستطع فبقلبه وذلك أضعف الإيمان) .

Juz III, halaman 317 – 318

كتاب الفتن

بَابُ مَا جَاءَ في تَغييرِ المُنكرِ باليدِ أو باللِّسانِ أو بالقلبِ

4.       
Sunan An Nasai
أخبرنا محمد بن بشار قال: حدثنا عبد الرحمن قال: حدثنا سفيان عن قيس بن مسلم، عن طارق بن شهاب قال: قال أبو سعيد: سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: من رأى منكرا فليغيره بيده، فإن لم يستطع فبلسانه، فإن لم يستطع فبقلبه، وذلك أضعف الإيمان.

Juz VIII, halaman 111 – 112

كتاب الإيمان وشرائعه

باب تفاضل أهل الإيمان
حدثنا عبد الحميد بن محمد قال: حدثنا مخلد قال: حدثنا مالك بن مغول عن قيس بن مسلم، عن طارق بن شهاب قال: قال أبو سعيد الخدري، سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول: من رأى منكرا فيغيره بيده فقد برئ، ومن لم يستطع أن يغيره بيده فيغيره بلسانه فقد برئ، ومن لم يستطع أن يغيره بلسانه فغيره بقلبه فقد برئ، وذلك أضعف الإيمان.

5.       
Sunan Ibnu Majah
حدثنا أبو كريب. حدثنا أبو معاوية، عن الأعمش، عن إسماعيل بن رجاء، عن أبيه، عن أبي سعيد. وعن قيس بن مسلم، عن طارق بن شهاب، عن أبي سعيد. قال: أخرج مروان المنبر يوم العيد. فبدأ بالخطبة قبل الصلاة. فقام رجل فقال: يا مروان خالفت السنة. أخرجت المنبر يوم عيد ولم يخرج به. وبدأت بالخطبة قبل الصلاة ولم يكن يبدأ بها. فقال أبو سعيد: أما هذا فقد قضى ما عليه. سمعت رَسُول اللَّهِ صَلَى اللَّهُ عليه وسلم يقول ((من رأى منكرا فاستطاع أن يغيره بيده. فإن لم يستطع فبلسانه. فإن لم يستطع بلسانه، فبقلبه. وذلك أضعف الإيمان)).

Juz I, halaman 406

كتاب إقامة الصلاة والسنة فيها

باب ما جاء في صلاة العيدين

Juz II, halaman 1330
حدثنا أبو كريب. حدثنا أبو معاوية، عن الأعمش، عن إسماعيل بن رجاء، عن أبيه، عن أبي سعيد الخدري. وعن قيس بن مسلم، عن طارق بن شهاب، عن أبي سعيد الخدري؛ قال: أخرج مروان المنبر في هذا اليوم. ولم يكن يخرج. وبدأت بالخطبة قبل الصلاة, ولم يكن يبدأ بها. فقال أبو سعيد: أما هذا فقد قض ماعليه. سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول:  ((من رأى منكم منكرا. فاستطاع أن يغيره بيده، فليغيره بيده. فإن لم يستطع، فبلسانه. فإن لم يستطع، فبقلبه. وذلك أضعف الإيمان)).

كتاب الفتن

باب الأمر بالمعروف والنهي عن المنكر

6.       
Musnad Ahmad ibn Hanbal
حدثنا عبد الله حدثني أبي حدثنا أبو معاوية حدثنا الأعمش عن اسمعيل بن رجاء عن أبيه وعن قيس بن مسلم عن طارق بن شهاب كلاهما عن أبي سعيد الخدري قال :أخرج مروان المنبر في يوم عيد ولم يكن يخرج به وبدأ بالخطبة قبل الصلاة ولم يكن يبدأ بها قال فقام رجل فقال يا مروان خالفت السنة أخرجت المنبر يوم عيد ولم يك يخرج به في يوم عيد وبدأت بالخطبة قبل الصلاة ولم يكن يبدأ بها قال فقال أبو سعيد الخدري من هذا قالوا فلان بن فلان قال فقال أبو سعيد أما هذا فقد قضى ما عليه سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول من رأى منكم منكرا فإن استطاع إن يغيره بيده فليفعل وقال مرة فليغيره بيده فإن لم يستطع بيده فبلسانه فإن لم يستطع فبقلبه وذلك أضعف الإيمان.
Juz III, halaman 10, 20, 49, 52 – 53, 92
مسند أبي سعيد الخدرى رضي الله عنه
حدثنا عبد الله حدثني أبي حدثنا يزيد أخبرني شعبة عن قيس بن مسلم عن طارق بن شهاب قال: خطب مروان قبل الصلاة في يوم العيد فقام رجل فقال إنما كانت الصلاة قبل الخطبة فقال ترك ذلك يا أبا فلان فقام أبو سعييد الخدري فقال: أما هذا فقد قضى ما عليه سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول من رأى منكرا فليغيره بيده فإن لم ليستطع فبلسانه فإن لم يستطع فبقلبه وذلك أضعف الإيمان.
حدثنا عبد الله حدثني أبي حدثنا عبد الرحمن حدثنا سفيان عن قيس بن مسلم عن طارق بن شهاب قال :أول من قدم الخطبة قبل الصلاة مروان فقام رجل فقال يا مروان خالفت السنة قال ترك ما هناك يا أبا فلان فقال أبو سعيد أما هذا فقد قضى ما عليه سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول من رأى منكم منكرا فليغيره بيده فإن لم يستطع فبلسانه فإن لم يستطع فبقلبه وذلك أضعف الإيمان.
حدثنا عبد الله حدثني أبي حدثنا محمد بن عبيد حدثنا الأعمش عن اسمعيل بن رجاء عن أبيه قال:أول من أخرج المنبر يوم العيد مروان وأول من بدأ بالخطبة قبل الصلاة فقام رجل فقال يا مروان خالفت السنة أخرجت المنبر ولم يك يخرج وبدأت بالخطبة قبل الصلاة قال أبو سعيد من هذا قالوا فلان بن فلان قال أما هذا فقد قضى ما عليه سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول من رأى منكرا فإن استطاع أن يغيره بيده فإن لم يستطع فبلسأنه فإن لم يستطع فبقلبه وذلك أضعف الإيمان.
حدثنا عبد الله حدثني أبي حدثنا وكيع حدثنا سفيان عن قيس بن مسلم عن طارق بن شهاب قال:أول من بدأ بالخطبة يوم عيد قبل الصلاة مروان بن الحكم فقام إليه رجل فقال الصلاة قبل الخطبة فقال مروان ترك ما هنالك أبا فلان فقال أبو سعيد الخدري أما هذا فقد قضى ما عليه سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول من رأى منكم منكرا فليغيره بيده فإن لم يستطع فبلسأنه فإن لم يستطع فبقلبه وذلك أضعف الإيمان.









Lampiran 2



Lampiran 3
مراجع
تصال

قول النقاد
روى عنه
روى عن
توفى
كنية ولقب
نسب
اسم
رمز
ذ ٣ : ٤٧٩-٤٨١
متصل
سمعت
الخاطب :ثقه،أبو حاتم : ثقه
طارق بن شهاب،وعاصم ابن شميخ الغيلاني
نبي محمد ص.م ، جابر بن عبد الله
٧٤
أبو سعيد الخذري
سعد بن مالك بن سنان بن عبيد بن ثعلبه بن عبيد بن العبجر خدرة بن عوف بن الحرث بن الخجرج الانصار
أبو سعيد الخذري
١
ذ ٣ : ٢٨٢
متصل
قال
العجلى :وهو ثقة، يحيي بن معين : وهو ثقة
اسماعيل بن ابى خالد ،وقيس بن مسلم ،ومخا رق الاحمس ، وعلقمة بن مرثد ، وسماك بن حرب
عن الخلفاء الاربعة ،وبلال ، أبي سعيد ، وخالد بن الوليد ، وابن مسعود ، كعب بن عجرة
٨٢
٨٣
٨٤
ابو عبد الله الكوفى
بن عبد شمس بن هلال بن سلمة بن عوف بن حشم البجلى الاحمسى
طارق بن شهاب
٢
ذ ٥ : ٤٧٣ - ٧٣٥
متصل
عن
وقال النّسائى : الثقة ، العجلى :وهو ثقة، يحي : كان مرجئا، وهو أثبت من أبي قيس
الأعمش ، وشعبة ، والثورى ، ومسعر ، ومالك بن مغول
طارق بن شهاب ، الحسن ابن محمد بن الحنفية ، ومجاهد
١٢٠
ابو عمر الكوفى
بن مسلم الجدلى العدوانى
قيس بن مسلم
٣
ذ ٣ : ١٦٤           -١٦٩ 
متصل
عن
ابنسعد :ثقة ، كان العجلى:ثقة
أيوب ، والأعمش ، وسعد بن ابراهيم ، ومحمد بن جعفر ، يزيد بن هارون
ابان بن تغلب ، ابراهيم بن عامر بن مسعود ،وقرة بن خالد ، وقيس بن مسلم،وابراهيم بن محمد المنتشر ، واسماعيل بن ابي جالد
١٦٠
أبو بسطامالو اسطى
بن الحجاج بن الورد العتكى الأزدى
شعبة
٤
ذ ١١ : ٣٦٦ - ٣٦٧
متصل
أخبرني
ابن المدين : هو من الثقات ، أبى معين : ثقة ، العجلى : ثقة ثبت ، ابو حاتم : ثقة
احمد بن حنبل، اسحاق بن راهويه ، ويحي ابن معين
سليمان التيمى ، سفيان بن حسير ، شعبة
٦.٢
ابوخالد
بن هارون بن وادي
يزيد
٥
ذ ٦ : ٧٢ - ٧٦
متصل
حدثنا
النسائى : الثقة ، ابن حبان في الثقات
البخار ، مسلم ، ابو داود ، يحي بن معين ، وابناه عبد الله و صالح
سفيان ابن عيينة ، يحي بن سعيد القطان ، يزيد بن هارون ،  الشافعي
٢٤١
ابو عبد الله
بن محمد بن حنبل بن هلال بن اسدالشيباني
احمد
٦

No comments:

Post a Comment