Wednesday, October 18, 2017

Tentang: Carpal Tunnel Syndrome (CTS)

Carpal Tunnel Syndrome (CTS) adalah salah satu gangguan yang disebabkan oleh trauma secara akumulatif ketika tangan digerakkan berulang-ulang pada periodesasi waktu yang lama yang menyebabkan penyempitan pada terowongan karpal sehingga terjadi penekanan terhadap nervus medianus pada telapak tangan (Haque, 2009 ; Woodall, 2012).


Peradangan tersebut mengakibatkan jaringan di sekitar saraf menjadi bengkak, sendi menjadi tebal, dan akhirnya menekan saraf medianus (saraf tengah) dibagian pergelangan tangan yang dapat mengakibatkan parastesia, mati rasa, dan kelemahan otot di tangan (Aizid, 2011). Pada awalnya gejala yang sering dijumpai adalah rasa nyeri, tebal (numbness) dan rasa seperti aliran listrik (tingling) dan biasanya gejala pertama timbul saat malam hari.

Gerakan berulang pada pergelangan tangan banyak dijumpai pada pekerja kantoran yang pekerjaan utamanya adalah duduk di depan komputer, selain itu gerakan berulang juga dijumpai pada petani pemetik teh secara manual.

Salah satu faktor resiko terjadinya CTS yaitu jenis kelamin, terutama perempuan. Resiko terjadinya CTS pada wanita 3 kali lipat lebih banyak daripada pria dan banyak terjadi pada usia 40-50 tahun. Selain itu sebuah studi yang dilakukan oleh Roquelaure (2008) tentang hubungan stuatus pekerjaan dengan tingkat insiden CTS menunjukkan bahwa tingkat  kejadian rata-rata CTS lebih tinggi daripada individu yang menganggur.


Carpal Tunnel Syndrome dibagi menjadi ringan, sedang dan berat (Asworth, 2009) :
1.   Ringan / mild / level 1, memiliki kelainan sensorik saja pada pengujian elektrofisiologis. Gejala CTS dapat berkurang dengan istirahat atau pijat.
2.  Sedang / moderate / level 2, memiliki gejala sensorik dan motorik. Gejala lebih intensif, test orthopedic dan neurologic mengindikasikan adanya kerusakan syaraf.
3.    Berat / severe / level 3, gejala lebih parah, mengalami penurunan sensorik dan rasa nyeri konstan.

Baca Juga: Tentang: Perbedaan Dermatosis dan Dermatitis


Diagnosis CTS dapat dilakukan dengan beberapa cara:
1. Pemeriksaan fisik, dilakukan pemeriksaan menyeluruh pada penderita dengan perhatian khusus pada fungsi, motorik, sensorik dan otonom tangan.
2.   Pemeriksaan neurofisiologi (elektrodiagnostik)
3. Pemeriksaan radiologis, menggunakan sinar x terhadap pergelangan tangan dapat membantu melihat apakah ada penyebab lain (fraktur atau arthritis).

Upaya pencegahan yang dapat dilakukan (Aizid, 2011):
1.    Biasakan agar pergelangan tangan dalam posisi lurus atau netral
2.    Gunakan semua jari untuk memegang benda
3.    Usahakan selalu mengistirahatkan tangan setiap 15-20 menit disela-sela kesibukan
4.    Gunakan pulpen dengan diamater besar agar mengurangi tekannan
5.    Rutin melakukan latihan peregangan otot-otot tangan dan lengan bawah.

Terapi untuk mengobati CTS (Aizid, 2011):
1.    Terapi konservatif
-       Istirahatkan pergelangan tangan
-       Obat anti inflamasi non steroid
-       Pemasangan bidai pada posisi netral pergelangan tangan
-       Nerve gliding
-       Injeksi steroid
-       Vitamin B6 (piridoksin)
-       Fisioterapi
2.    Terapi operatif (pembedahan)
-       Dekompreasi terbuka
-       Dekompresi endoskopik


Sumber:
Aizid, Rizem. 2011. Babat ragam penyakit paling sering menyerang orang kantoran. Jakarta : flashbook.

Ashworth, Nigel. 2009. Clinical Evidence Carpal Tunnel Syndrome. Edmonton Canada: Associate Profesor University of Alberta.

Haque, Mustafa, M.D. 2009. Carpal Tunnel Syndrome. Georgetown University
Hospital USA: U.S. Departement of Health and Human Services, Office on Women’s Health.

Woodall C., 2012. Clinical Guideline for The Conservative Management of
Carpal Tunnel Syndrome. Advanced Musculoskeletal Physiotherapist:
Clinical Guideline Ratification Group. 1:2-6

No comments:

Post a Comment