Wednesday, October 18, 2017

Tentang: Gangguan Pendengaran

Gangguan pendengaran akibat bising atau noice induced hearing loss (NIHL) adalah tuli yang di akibatkan oleh terpaparnya bising yang cukup keras dalam jangka waktu yang lama. Biasanya gangguan pendengaran ini diakibatkan oleh bising di lingkungan kerja.


Secara umum bising adalah bunyi yang tidak diinginkan atau tidak disenangi yang merupakan aktivitas alam dan buatan manusia. Bising yang intensitasnya mencapai 85dB atau lebih dapat menyebabkan kerusakan reseptor pendengaran Corti pada telinga bagian dalam. Kebisingan yang berlebihan dapat merusak sel-sel rambut di koklea, bagian dari telinga bagian dalam dan akan menyebabkan kehilangan pendengaran.

Gangguan pendengaran akibat bising ini sering dijumpai pada pekerja industri baik di negara maju maupun berkembang yang sering terpapar oleh alat-alat yang dapat menyebabkan kebisingan. Sumber kebisingan tersebut seperti penggunaan mesin-mesin kendaraan bermotor, mesin-mesin pabrik, alat-alat transportasi berat, dsb (Lintong, 2009).

Bising dapat menyebabkan berbagai gangguan terhadap kesehatan, salah satunya adalah gangguan pendengaran. Gangguan pendengaran merupakan gangguan paling serius karena dapat menyebabkan ketulian yang dapat bersifat sementara ataupun menetap.


Bising industri telah lama menjadi masalah yang sampai sekarang belum dapat ditanggulangi secara baik sehingga menjadi ancaman yang serius bagi para pekerja. Bagi pihak industri sendiri bising dapat menyebabkan kerugian ekonomi karena biaya ganti rugi (Rambe, 2003).

Berdasarkan frekuensi, tingkat tekanan bunyi, tingkat bunyi dan tenaga bunyi, bising dibagi atas tiga kategori (Gabriel, 1996) :
1.    Audible noise (bising pendengaran), disebabkan oleh frekuensi bunyi 31,5-8000 Hz.
2.    Occupational noise (bising berhubungan dengan pekerjaan), disebabkan oleh bunyi mesin ditempat kerja.
3.    Impuls noise (impact noise/bising impulsive), disebabkan oleh adanya bunyi menyentak. Misal : pukulan palu, ledakan, meriam, tembakan bedil, dll.


Baca Juga: Tentang: Kebisingan


Pengendalian kebisingan adalah upaya/langkah yang dilakukan untuk mengelola risiko paparan kebisingan. Beberapa pengendalian yang dapat diterapkan untuk mengurangi paparan kebisingan :
1.    Eliminasi, kegiatan industri harus didesain untuk mencegah dan meminialisir resiko.
2.    Pengendalian teknis, menggunakan metode yang secara permanen dapat mengatasi paparan.
3.  Pengendalian administratif, dilakukan ketika paparan tidak dapat di eleminasi atau dikendalikan secara teknis.
4.  Alat pelindung diri (APD), alat yang digunakan dengan cara dimasukkan kedalam telinga pekerja untuk melindungi pekerja.

Upaya pengendalian yang dapat dilakukan oleh perusahaan adalah memberikan pelatihan terkait penggunaan alat pelindung telinga. Pelatihan harus diberikan agar pekerja menyadari betapa pentingnya alat tersebut bagi kesehatan mereka, sehingga dampak buruk berupa gangguan pendengaran dapat dicegah.

Penggunaan alat pelindung telinga merupakan langkah terakhir pengendalian bising ditempat kerja. Penggunaan alat pelindung telinga ini dapat mengurangi tingkat kebisingan tergantung dari jenis dan noise reduction rate dari alat tersebut. Pengendalian ini banyak diterapkan dibanding dengan pengendalian engineering ataupun administrative control karena relatif lebih murah dan mudah untuk dilakukan. Tetapi pada kenyataannya masih banyak pekerja yang tidak menggunakan alat pelindung telinga dengan alasan tidak nyaman.

Selain itu, perusahaan juga dapat memberikan pengawasan terhadap penggunaan alat pelindung telinga kepada para pekerja dan memberikan kebijakan bagi para pekerja yang tidak menggunakan APT di area kerja yang bising. Pengawasan berguna untuk mencegah terjadinya gangguan pendengaran akibat bising sedangkan kebijakan akan membuat para pekerja lebih memperhatikan kesehatan dirinya pada saat bekerja.

Sumber:
Gabriel, J., 1996. Dalam: Fisika Kedokteran. Jakarta: EGC XV, pp. 66-94.
Lintong, F., 2009. Gangguan Pendengaran Akibat Bising.
Rambe, D. A. Y. M., 2003. Gangguan Pendengaran Akibat Bising.


No comments:

Post a Comment