Saturday, January 6, 2018

AL GHAZALI

1.    Riwayat Hidup Al-Ghazali
Abu Hamid Muhammad Al-Ghazali lahir pada tahun 1059 M, Di Ghazaleh suatu kota kecil yang terletak di dekat Tus di Khurasan. Di masa mudanya ia belajar di Nisyapur (juga di Khurasan) yang pada waktu itu merupakan salah satu pusat ilmu pengetahuan yang penting di dunia Islam. Ia kemudian menjadi murid Imam Al-Haramaim al-Juwaini. Guru Besar di Madrasah al-Nizamah Nisyapur. Diantara matapelajaran-matapelajaran yang diberikan di Madrasah ini ialah : teologi, hokum Islam, filsafat, logika, sufisme dan ilmu-ilmu alam.

Dengan perantara Al-Juwaini, Al-Ghazali berkenalan dengan Nizam al-Mulk, Perdana Menteri Sultan Seljuk Maliksyah. Nizam al-Mulk adalah pendiri dari madrasah-madrasah al-Nizamiah. Ditahun 1091 M, al-Ghazali diangkat menjadi guru di Madasah Al-Nizamiah di Baghdad.

Al-Ghazali dalam sejarah filsafat Islam dikenal sebagai orang yang pada mulanya syak terhadap segala-galanya. Perasaan syak ini krlihatannya timbul dalam dirinya dari pelajaran ilm al-kalam atau teologi yang diperolehnya dari al-Juwaini. Sebagai diketahui dalam ilm al-kalam terdapat beberapa aliran yang saling bertentangan. Timbullah pertanyaan dalam diri al-Ghazali: aliran manakah yang betul-betul benar diantara semua aliran itu?

Sebagai dijelaskan Al-Ghazali dalam bukunya   لمنقذ من الضلالIa ingin mencari kebenaran yang sebenarnya; yaitu kebenaran yang diyakininya betul-betul merupakan kebenaran, seperti kebenaran sepuluh lebih banyak dari tiga. “Sekiranya ada orang yang mengatakan bahwa tiga lebih banyak dari sepuluh dengan argument bahwa tongkat dapat ia jadikan ular, dan hal itu memang betul ia laksanakan, saya akan kagum melihat kemampuannya, tetapi sungguhpun demikian keyakinan saya bahwa sepuluh lebih banyak dari tiga tidak akan goyang”. Serupa inilah, menurut al-Ghazali pengetahuan yang sebenarnya.

Pada mulanya pengetahuan serupa itu dijumpai al-Ghazali dalam hal-hal yang ditangkap dengan pancaindra, tetapi baginya kemudian ternyata bahwa pancaindera juga berdusta. Sebagai umpama ia sebut:
a.    Bayangan (rumah) kelihatannya tak bergerak, tetapi akhirnya bertpindah tempat.
b.   Bintang-bintang di langit kelihatannya kecil, tetapi perhitungan menyatakan bahwa bintang-bintang itu lebih besar dari bumi.

Karena idak percaya pada pancaindera lagi, ia kemudian meletakkan kepercayaannya pada akal juga ternyata tak dapat dipercayai. Sewaktu bermimpi, demikian al-Ghazali, orang melihat hal-hal yang kebenarannya diyakini betul-betul tetap setelah bangun ia sadar, bahwa apa yang ia lihat benar itu, sebetulnya tidaklah benar. Tidaklah mungkin apa yang sekarang dirasa benar menurut pendapat akal, nanti kalau kesadaran yang lebih dalam timbul akan ternyata tidak benar pula, sebagaimana halnya dengan orang yang telah bangun dan sadar dari tidurnya?

2.    Kritik Terhadap Filosof-Filosof
Ia mempelajari falsafat, kelihatannya untuk menyelidiki apakah pendapat-pendapat yang dimajukan filosof-filosof itulah yang merupakan kebenaran. Baginya ternyata bahwa argument-argumen yang mereka majukan tidak kuat dan menurut keyakinannya ada yang bertentangan dengan ajaran-ajaran Islam. Akhirnya ia mengambil sikap menentang terhadap falsafat. Diwaktu inilah ia mengarang bukunya yang bernama مقا صد الفلاسفة (Pemikiran Kaum Filosof) yang diterjemahkan ke dalam bahasa Latin ditahun 1145 M. oleh Dominicus Gundissalimus di Toledo dengan judul : Logica et Philosophia Algazelis Arabis. Dalam buku ini ia menjelaskan pemikiran-pemikiran filsafat, terutama menurut Ibnu Sina. Sebagai dijelaskan oleh Al-Ghazali sendiri dalam Pendahuluan, buku itu dikarangnya untuk mengkritik dan menghancurkan falsafat. Kritikan itu datang dalam bentuk buku yaitu الفلاسفة تهافث. (Kekacauan Pemikiran Filosof-Filosof atau The Incoherence of the Philosophers).

Sebagai halnya dalam ilm al-kalam, dalam filsafat al-Ghazali juga menjumpai argument-argumen yang tidak kuat. Akhirnya dalam tasawuflah ia memperoleh apa yang dicarinya. Setelah tidak merasa puas dengan ilm al-kalam dan falsafat, ia meninggalkan kedudukannya yang tinggi di Madrasah al-Nizamiah-Baghdad di tahun 1095 M. dan pergi ke Damaskus bertapa di salah satu menara Mesjid Umawi yang ada disana. Setelah bertahun-tahun mengembara sebagai sufi ia kembali ke Tus ditahun 1105 M. dan meninggal di sana  ditahun 1111 M.

Tasawuflah yang dapat menghilangkan rasa syak yang lama mengganggu dirinya. Dalam tasawuflah ia memperoleh keyakinan yang dicari-carinya. Pengetahuan mistiklah, cahaya yang diturunkan Tuhan kedalam dirinya, itulah yang membuat al-Ghazali memperoleh keyakinannya kembali. Mengenai cahaya ini al-Ghazali mengatakan:
وذلك النور هو مفتاح اكثر المعارف فمن ظن ان الكشف موقوف على الادلة المحررة فقد ضيق رحمةالله تعالى الواسعة ...هو نوريقذفه الله تعالى فى القلب           
“Cahaya itu adalah kunci dari kebanyakan pengetahuan dan siapa yang menyangka bahwa kasyf (pembukaan tabir) bergantung pada argument-argumen, sebenarnya telah mempersempit rahmat Tuhan yang demikian luas… Cahaya yang dimaksud adalah cahaya yang disinarkan Tuhan kedalam hati-sanubari seseorang”

Dengan demikian satu-satunya pengetahuan yang menimbulkan keyakinan akan kebenarannya bagi al-Ghazali ialah pengetahuan yang diperoleh secara langsung dari Tuhan dengan tasawuf.

Sebagai dijelaskan di atas, al-Ghazali tidak percaya pada falsafah, bahkan memandang filosof-filosof sebagai  اهل البدعyaitu tersesat dalam beberapa pendapat mereka. Di dalam تهافت الفلاسفة. Al-Ghazali menyalahkan filosof-filosof dalam pendapat-pendapat berikut:
a.         Tuhan tidak mempunya sifat.
b.        Tuhan mempunya substansi بسيط (sederhana, simple) dan tidak mempunyai ماهية(hakekat, quiddity).
c.         Tuhan tidak mengetahui  جزئيات(perincian, particulars).
d.        Tuhan tidak dapat diberi sifat   الجنس(jenius, genus) dan   الفصل(differentia).
e.         Planet-planet adalah binatang yang bergerak dengan kemauan.
f.         Jiwa planet-planet mengetahui semua جزئيات
g.        Hukum alam tak dapat berubah.
h.        Pembangkitan jasmani tidak ada.
i.          Alam ini tidak bermula.
j.          Alam ini akan kekal.
Tiga dari kesepuluh pendapat di atas, menurut al-Ghazali membawa kepada kekufuran yaitu:
a.         Alam kekal dalam arti tak bermula.
b.        Tuhan tak mengetahui perincian dari apa-apa yang terjaga di alam.
c.         Pembangkitan jasmani tidak ada.

Pendapat bahwa alam kekal dalam arti tidak bermula tak dapat diterima dalam teologi Islam. Dalam teologi, Tuhan adalah Pencipta. Dan yang dimaksud dengan Pencipta ialah yang menciptakan sesuatu dari tiada (creato ex – nihilo). Dan kalau alam (dalam arti segala yang ada selain dari Tuhan) dikatakan tidak bermula, maka alam bukanlah diciptakan dan dengan demikian Tuhan bukanlah Pencipta. Dan dalam Qur’an disebut bahwa Tuhan adalah Pencipta segala-galanya. Menurut al-Ghazali tidak ada orang Islam yang menganut bahwa alam ini tidak bermula.

Dalam ketiga hal di atas, kaum filosof, kata al-Ghazali dengan terang-terangan menentang nas atau teks Qur’an.

Jawaban dari pihak filosof-filosof terhadap serangan-serangan al-Ghazali ini diberikan kemudian oleh Ibn Rusyad dalam bukunya تهافت التهافت (Kekacauan dalam Kekacauan, The Incoherence of the Incoherence).

3.    Tiga Golongan Manusia
Dalam pada itu al-Ghazali membagi umat manusia kedalam tiga golongan;
a.    Kaum awam, yang cara berfikirnya sederhan sekali.
b.    Kaum pilihan ) (الخواصyang aklnya tajam dan berfikir secara mendalam.
c.    Kaum penengkar (اهل الجدل)
Kaum awam dengan daya akalnya yang sederhana sekali tidak dapat menangkap hakekat-hakekat. Mereka mempunyai sifat lekas percaya dan menurut. Golongan ini harus dihadapi dengan sikap memberi nasehat dan petunjuk (الموعظة). Kaum pilihan yang daya akalnya kuat dan mendalam harus dihadapi dengan sikap menjelaskan hikmat-hikmat, sedang kaum penengkar dengan sikap mematahkan argument-argumen (المجادلة)

Inilah yang dimaksud ayat :
ادع الى سبيل ربك بالحكمة والموعظة الحسنة وجاد لهم بالتى هى احسن
“Panggillah manusia kepada jalan Tuhanmu dengan menjelaskan hikmat-hikmat serta memberi petunjuk-petunjuk baik dan patahkanlah argument-argumen mereka dengan yang lebih kuat”.

Dalam hubungan ini Syekh Sulaiman Dunya dari Al-Azhar, Cairo, mengatakan bahwa al-Ghazali keliahatannya memberikan keterangan-keterangan yang berlainan kepada kaum awam dan kepada kaum pilihan; al-Ghazali menggambarkan hakekat dengan cara yang berlainan menurut situasi yang dihadapinya.

Sebagai filosof-filosof dan ulam-ulama lain, al-Ghazali dalam hal ini, membagi manusia ke dalam dua golongan besar, awam dan khawas, yang daya tangkapnya tidak sama, dan oleh karena itu apa yang dapat diberikan kepada golongan khawas tidak selamanya dapat diberikan kepada kaum awam. Dan sebaliknya pengertian kaum awam dan kaum khawas tentang hal yang sama tidak selamanya sama, tetapi acap kali berbeda, dan berbeda menurut daya berpikir masing-masing. Kaum awam membaca apa yang tersurat dan kaum khawas, sebaliknya, membaca apa yang tersirat. 

1 comment:

  1. As stated by Stanford Medical, It's indeed the one and ONLY reason this country's women live 10 years longer and weigh an average of 19 KG less than we do.

    (Just so you know, it is not related to genetics or some secret exercise and EVERYTHING to around "how" they are eating.)

    P.S, What I said is "HOW", not "WHAT"...

    CLICK this link to find out if this quick questionnaire can help you release your real weight loss possibility

    ReplyDelete